Selasa, 10 November 2009

perempuan dan isi hati


Aku..adalah aku
hanya seorang perempuan biasa
yang memiliki masa lalu.
Aku adalah aku
hanya seorang manusia biasa
yang tidak luput dari kekurangan
Aku adalah aku
seseorang yang menatap masa depan
sedang beranjak dari masa lalu yang kelam
sedang berusaha menemukan kebahagiaan
sedang mempelajari arti kesabaran
sedang menelaah makna..
"ingin", "butuh",
"diinginkan", "dibutuhkan",
"menginginkan", "membutuhkan"
Aku hanyalah perempuan biasa
yang memiliki harapan
yang memiliki cinta
yang memiliki rasa sayang
yang ingin disayangi
yang ingin dicintai
yang butuh cinta, mencintai, dicintai
yang butuh sayang, menyayangi, disayangi. 
Aku mungkin lupa
Aku mungkin banyak khilaf
Aku mungkin mengecewakan
Aku mungkin membuatmu bertanya banyak hal
Aku mungkin membuatmu menjadi seseorang yang aneh
Aku mungkin menyita waktumu, perhatianmu
Aku mungkin membuatmu sakit
Aku mungkin membuatmu mengkhawatirkanku
Aku mungkin... bla..bla..bla...
Ketahuilah...
Aku seperti ini karena aku membutuhkanmu untuk masa kini dan seterusnya.
Aku bukan menyepelekan masa laluku dan memaksamu untuk tak mengetahuinya
namun semua itu kulakukan karena aku tak mau kau terluka
karena aku pernah melalui masaku..
saat aku jalang,
saat aku bodoh,
saat aku lupa diri,
saat aku dalam masa pencarian sosokmu.
Adamku, tolong fahami aku..
aku tak mampu menjelaskannya dengan perkataan
karena tak ada yang harus kujelaskan
aku tak perlu memberikan alasan
karena tak ada yang harus kubela
aku tak perlu melindungi diri seperti yang kau kira
karena aku akui memang beginilah aku apa adanya.
Adamku, sadarkan aku jika tampak aku lalai
dan ingatkan aku tentang hal yang aku lupa.
Adamku, beginilah aku dengan segala yang kumiliki.
Tentang cintaku padamu,
tentang harapku padamu,
tentang khawatirku untukmu,

tentang rasaku yang berjuta..tertulis dalam hati
sulit untuk kuungkap dalam kata-kata
karena aku
tak ingin membuatmu berfikir aku melebihi kemampuanku
dalam menghargaimu,
dalam menyayangimu.
Adamku, aku mohon, teruslah lawan prasangkamu
karena apa yang kubangun untukmu bukan hanya sebuah prasangka
tapi sebuah harapan
sebuah keindahan yang ingin kuwujudkan bersamamu,
hari ini
esok
dan seterusnya.

versus

aku tidak pernah tau kekuatan darimanakah yang sedang kurasakan. tapi aku yakin semua ini datang dari Yang Maha Menciptakan. aku yakin di dunia ini tidak ada yang timbul dengan sendirinya tanpa ada hikmah yang dapat kupelajari. jujur, aku jatuh cinta padanya. semakin mencoba untuk menghindar, menjauhi, memerangi, menunda rasa kerinduanku, dan rasa itupun semakin tumbuh.
sementara itu, satu hati yang lain itupun sedang mengalami hal yang sama. demi kebaikan semuanya, maka kerinduan itu mencoba untuk kita redam. karena keduanya memiliki tujuan yang sama, keinginan untuk menghindar dari hal yang tidak boleh terluapkan bukan pada saatnya. dan akhirnya terputuskan komitmen untuk saling menghindari. namun semakin mengindar, mengapakah semakin menjadi. godaan datang, ujian berganti, dan harus dihadapi meskipun kedua hati itu menangis mencoba mempertahankan diri. bertahan diantara rasa rindu dan bertahan untuk tidak saling menjamah.
akhirnya percakapan dua hati terjadi. walaupun kini semakin deras air mata ini harus menangis, namun kuyakin ini mulia. karena hatiku, hatinya mengharapkan timbul cinta terhormat. tanpa ada kekotoran tanpa ada penghianatan, tanpa ada kepalsuan dan berharap satu yang sejati. kitapun memutuskan bertahan pada tujuan semula. biarkan berjalan, tidak ada rekayasa, namun tetap berjaga. demikian hatinya berucap, ketika harus tiba pada saatnya yang tepat, garis Tuhan pasti mempersatukan.

Memupuk sebuah keyakinan

Ketika seorang manusia diamanahi sebuah rasa percaya terhadap sebuah hal, maka itu adalah fitrahnya. Alloh menciptakan manusia dengan berbagai dimensi rasa, dan salah satunya adalah rasa percaya akan sesuatu. Iman yang menetap pada diri seseorang juga merupakan pertanda bahwa manusia memiliki rasa percaya, dan ketika kepercayaan terjaga, terpupuk dan terpelihara, maka ia tumbuh menjadi sebuah keyakinan yang tak tergoyah. Iman, adalah rasa percaya yang telah terpelihara dan terjaga sehingga ia terbuktikan dalam pemikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.
Manusia, diamanahi sebuah keyakinan akan banyak hal. Misalnya yakin untuk menjalankan hidup yang penuh dengan misteri. Yakin untuk menguatkan diri. yakin untuk melangkahkan kaki menuju masa depan. Yakin akan adanya Tuhan. Yakin bahwa diatas segala kejadian ada Rabb Yang Maha Mengatur. Yakin bahwa rezeki senantiasa mengalir dan setiap makhluk hidup disertai dengan apa yang menjadi bagiannya. Yakin bahwa segala yang ada pada kita hari yang lalu, kini dan nanti adalah titipan semata yang bersifat sementara. Yakin bahwa setiap masalah akan ada solusinya. Yakin bahwa hidup ini penuh cinta. Yakin bahwa diri ini mampu berdiri karena adanya Zat Yang Maha Berdiri Sendiri yang memberikan kekuatan.

Sementara itu, sebuah keyakinan pun bisa menjadi goyah tatkala hati mulai terganggu oleh prasangka yang kurang baik. Keyakinan seseorang bisa menjadi goyah ketika hatinya berkata sepihak tanpa banyak mencari fakta. Keyakinan goyah hanya karena hati dibiarkan terkotori salah sangka. Keyakinan menjadi rapuh ketika prasangka menjadi perkataan buruk, perkataan berubah menjadi perbuatan dan perbuatan menjadi kebiasaan. Untuk itu, dari hal yang terkecil, ketika itu merupakan sebuah kebenaran walaupun pahit dan menyakitkan, maka mulailah untuk dijaga agar yakin bahwa yang benar tetap benar dan yang salah itu salah. Dengan tetap memohon perlindungan kepada Yang Maha Benar, mohon lindungilah kami Yaa Alloh dari segala hal yang akan menggoyahkan keyakinan dan Iman kami pada-MU. Dan mohon palingkan kami dari keburukan prasangka kami. Sekecil apapaun prasangka buruk kami padaMU dan kepada MakhlukMU maka ampuni kami dan bimbinglah agar hidup kami tetap yakin bergantung padaMU.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Dua insan, dua hati, memaknai sejatinya...

Sore ini, sabtu 24 Oktober 2009, seorang perempuan menangis di sudut kamar. Dia menangis karena mendengarkan pembicaraan diujung telepon sana, dimana tengah berbicara seorang lelaki yang dikagumi-mengaguminya. Lelaki itu mengucapkan perpisahan yang begitu terkesan tiba-tiba. Si perempuan menangis beberapa saat sembari tangannya tetap tak terlepas dari memegang handphone tertempel di daun telinga. Sebenarnya tidak kuat perempuan itu harus meneruskan pembicaraan, dihatinya terucap...cukup! cukup! cukup! jangan diteruskan pembicaraan yang membuat terenyuh ini. Cukuplah untuk berkata perpisahan...karena jika benar itu perpisahan maka akan sangat menyakitkan. Meruntuhkan setiap tiang kokoh yang sedang dibangun si perempuan dihatinya. Semakin tersedu sedan, air mata menitik jatuh, ketika terucap kata permohonan maaf dari si lelaki. Memohon maaf karena dengan terpaksa harus berhenti sejenak dari setiap langkah komunikasi yang sedang dijalin. Meminta maaf untuk setiap kesalahan dan kekhilafan yang pernah terucapkan." Bun, ayah minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah terucapkan.", si perempuan berkata dihatinya "cukup...! jangan ucapkan kata maaf karena dalam hal ini tidak ada yang harus dimaafkan, ini bukan suatu kesalahan, tapi ini adalah sebuah proses dalam hidup." Perempuan yang menangis itu masih belum faham makna si lelaki memohon adanya sebuah perpisahan. Yang terpikirkan oleh si perempuan adalah setiap ketakutan, perempuan itu dihantui rasa takut. Ya...rasa takut kehilangan. Entahlah seberapa kuat rasa takut itu. Rasa takut yang sedang diredam selama waktu berjalan itu tiba-tiba saja muncul dan menambah sedu sedan, perempuan itu menangis dan beberapa saat tak berkata-kata. Dan lelaki itu membeberkan alasan kenapa harus berucap perpisahan. "Ayah..hanya sedang ingin mencari jati diri ayah. Ayah sedang ingin mencari yang sebenarnya ayah inginkan, harapkan, butuhkan.Dan ketika hati ini merasakan menemukan jawaban, maka tidak ragu lagi, ayah pasti hubungi bunda. Namun ayah tidak tahu sampai batas waktu kapan kita dapat berkomunikasi kembali. Tetaplah bunda berpositif thinking atas semua yang pernah terjadi diantara kita. Ayah tau ini menyakitkan, ini menyisakan kenangan, namun disini juga letak sebuah pembelajaran yang dapat kita ambil. Tanpa mengurangi rasa sayang dan pengharapan ayah terhadap bunda, mulai dari tertutupnya telepon ini maka akses kita ayah batasi. Daripada menyesal kemudian karena kurangnya evaluasi diri kita, maka lebih baik dari sekarang kita mulai evaluasi itu. Yakini saja hati kita, jika garis tangan Allah berpihak...maka kita bertemu, segera, disaat yang tepat! Bunda...sudah yaa.. Bismillah...hmmm...Bismillahirrohmaanirrohiim..ayah pamit. assalamualaikum."

Percakapan berakhir, namun tangis perempuan itu belum usai. Percakapan yang menyisakan banyak pertanyaan. Hati si perempuan mempertanyakan, inikah akhir dari semua? ataukah justru ini adalah awal dari semua cerita? akkh.....wallohu'alam bishawab..perempuan itupun mencoba untuk fahami semuanya dari sudut pandang positif. Tidak ada yang harus disalahkan dan tidak harus merasa bersalah, semuanya kembali kepada niat. Dan diujung sebuah usaha dan pengharapan, masih ada sebuah kepasrahan kepada Sang Khalik...tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Ketika Alloh sudah berkehendak, maka kun..fayakun... sedihkah akhirnya? bahagiakah ujungnya? berlanjutkah perjalanan ini? si perempuan itupun tak pernah tahu. Cukup ia katakan bahwa yang sejati itu ada dalam ketulusan. Apa yang selama ini terjadi tidak luput dari alur yang sudah digariskan Sang Maha Pengatur hidup maka akhirnyapun pasrahkan kembali kepada Sang Maha Hidup. Dan komunikasi antar 2 hati pun dimulai saat itu.

Kamis, 22 Oktober 2009

Asih urang, diapungkeun ka langit muntang kana bentang ucang angge duaan
asih urang, dipuntangkeun ka langit manteng dina urang ayang-ayangan duaan
asih urang, tingkaredip jiga bentang...
asih urang, kahibaran linduh bulan
cahayana cinta, purnama harepan bagja, laksana satuhun salalamina...


adopt by song " Nining Meida"

Manusia biasa

Manusia hanya sesosok makhluk yang lemah. Tidak berdaya jika tidak ada yang menghidupkan. Tidak dapat bergerak jika tidak ada yang menggerakkan, tidak bernyawa jika tidak ada yang meniupkannya ruh. Manusia hanya abdi. Dia memiliki rasa karena memiliki hati, dia memiliki ego karena memiliki rasa. Dia mampu berfikir dan mampu mewujudkan apa yang ada dalam fikirannya.
Manusia hanyalah seorang manusia. Mudah dipengaruhi oleh berbagai masukan yang mendekatinya. hati mudah berubah dalam merasakan sesuatu. pikiran mudah berubah dalam merespon sesuatu. Ada baik ada buruk, ada cinta ada benci ada sayang, ada bahagia ada duka, ada semangat ada kemalasan, ada harapan dan ada keputusasaan. Semuanya..komplit ada dalam diri seorang manusia.