Sore ini, sabtu 24 Oktober 2009, seorang perempuan menangis di sudut kamar. Dia menangis karena mendengarkan pembicaraan diujung telepon sana, dimana tengah berbicara seorang lelaki yang dikagumi-mengaguminya. Lelaki itu mengucapkan perpisahan yang begitu terkesan tiba-tiba. Si perempuan menangis beberapa saat sembari tangannya tetap tak terlepas dari memegang handphone tertempel di daun telinga. Sebenarnya tidak kuat perempuan itu harus meneruskan pembicaraan, dihatinya terucap...cukup! cukup! cukup! jangan diteruskan pembicaraan yang membuat terenyuh ini. Cukuplah untuk berkata perpisahan...karena jika benar itu perpisahan maka akan sangat menyakitkan. Meruntuhkan setiap tiang kokoh yang sedang dibangun si perempuan dihatinya. Semakin tersedu sedan, air mata menitik jatuh, ketika terucap kata permohonan maaf dari si lelaki. Memohon maaf karena dengan terpaksa harus berhenti sejenak dari setiap langkah komunikasi yang sedang dijalin. Meminta maaf untuk setiap kesalahan dan kekhilafan yang pernah terucapkan." Bun, ayah minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah terucapkan.", si perempuan berkata dihatinya "cukup...! jangan ucapkan kata maaf karena dalam hal ini tidak ada yang harus dimaafkan, ini bukan suatu kesalahan, tapi ini adalah sebuah proses dalam hidup." Perempuan yang menangis itu masih belum faham makna si lelaki memohon adanya sebuah perpisahan. Yang terpikirkan oleh si perempuan adalah setiap ketakutan, perempuan itu dihantui rasa takut. Ya...rasa takut kehilangan. Entahlah seberapa kuat rasa takut itu. Rasa takut yang sedang diredam selama waktu berjalan itu tiba-tiba saja muncul dan menambah sedu sedan, perempuan itu menangis dan beberapa saat tak berkata-kata. Dan lelaki itu membeberkan alasan kenapa harus berucap perpisahan. "Ayah..hanya sedang ingin mencari jati diri ayah. Ayah sedang ingin mencari yang sebenarnya ayah inginkan, harapkan, butuhkan.Dan ketika hati ini merasakan menemukan jawaban, maka tidak ragu lagi, ayah pasti hubungi bunda. Namun ayah tidak tahu sampai batas waktu kapan kita dapat berkomunikasi kembali. Tetaplah bunda berpositif thinking atas semua yang pernah terjadi diantara kita. Ayah tau ini menyakitkan, ini menyisakan kenangan, namun disini juga letak sebuah pembelajaran yang dapat kita ambil. Tanpa mengurangi rasa sayang dan pengharapan ayah terhadap bunda, mulai dari tertutupnya telepon ini maka akses kita ayah batasi. Daripada menyesal kemudian karena kurangnya evaluasi diri kita, maka lebih baik dari sekarang kita mulai evaluasi itu. Yakini saja hati kita, jika garis tangan Allah berpihak...maka kita bertemu, segera, disaat yang tepat! Bunda...sudah yaa.. Bismillah...hmmm...Bismillahirrohmaanirrohiim..ayah pamit. assalamualaikum."
Percakapan berakhir, namun tangis perempuan itu belum usai. Percakapan yang menyisakan banyak pertanyaan. Hati si perempuan mempertanyakan, inikah akhir dari semua? ataukah justru ini adalah awal dari semua cerita? akkh.....wallohu'alam bishawab..perempuan itupun mencoba untuk fahami semuanya dari sudut pandang positif. Tidak ada yang harus disalahkan dan tidak harus merasa bersalah, semuanya kembali kepada niat. Dan diujung sebuah usaha dan pengharapan, masih ada sebuah kepasrahan kepada Sang Khalik...tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Ketika Alloh sudah berkehendak, maka kun..fayakun... sedihkah akhirnya? bahagiakah ujungnya? berlanjutkah perjalanan ini? si perempuan itupun tak pernah tahu. Cukup ia katakan bahwa yang sejati itu ada dalam ketulusan. Apa yang selama ini terjadi tidak luput dari alur yang sudah digariskan Sang Maha Pengatur hidup maka akhirnyapun pasrahkan kembali kepada Sang Maha Hidup. Dan komunikasi antar 2 hati pun dimulai saat itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar